1 | Latopslagab II
Di laut tersimpan harapan
Di laut tersimpan kejayaan
Jalesveva Jayamahe
Perairan
Pulau Gundul, Kepulauan Karimun Jawa.
KRI R.E. Martadinata (KRI REM)-331, salah satu
kapal perang unggulan TNI AL, berlayar dengan tenang di tengah laut, menyiapkan
sistem peluncur rudalnya untuk penembakan sasaran strategis di darat pada Latihan
Operasi Laut Gabungan (Latopslagab) II.
Letnan Satu Mahesa Darya Suryanata, merupakan
bagian dari tim pengawasan operasi di KRI REM-331, sedang memantau jalannya penembakan
rudal Exocet MM-40 B3 yang akan diluncurkan dari kapal tersebut. Mahesa berada
di posisi yang cukup strategis, mengawasi tim peluncur rudal dan memastikan
bahwa semua sistem navigasi dan persenjataan kapal berfungsi dengan baik.
Dengan sigap, ia menyesuaikan jarak dengan target yang telah ditentukan,
memastikan koordinasi antara unit kapal dan unsur udara yang terlibat dalam
latihan.
Seiring dimulainya penghitung mundur untuk penembakan, Mahesa mengamati layar radar dengan penuh perhatian. Rudal Exocet MM-40 B3 yang diluncurkan dari KRI REM-331 menuju sasaran yang berada di Pulau Gundul sejauh 66.6 km dari kapal. “Semua sistem berjalan baik, Lettu!” Lapor seorang anggota tim teknis di sebelahnya.
Dengan ekspresi penuh
ketegasan, Mahesa mengangguk. “Pastikan
semua koordinat tepat. Kita harus menghancurkan sasaran dengan akurasi
sempurna.”
Penghitung mundur dimulai, dan atmosfer di kapal
berubah menjadi senyap penuh konsentrasi. Seluruh mata tertuju pada layar radar
dan peluncur rudal yang siap bekerja.
“Koordinat target terkunci. Semua sistem dalam
status hijau.” Lapor seorang teknisi.
“Luncurkan!” Perintah Mahesa dengan suara mantap.
Dalam hitungan detik, suara gemuruh dari peluncur rudal memecah keheningan, rudal Exocet MM-40 B3 meluncur dari KRI REM-331, membelah udara dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak asap tipis yang membelah langit biru di atas lautan. Semua tim menahan napas, mengikuti pergerakan rudal di layar radar. Bunyi desingan rudal terdengar tajam, melebihi raungan seekor elang yang terbang menuju mangsanya.
Di layar radar, pergerakan rudal terlihat sangat presisi, garis lintasannya tepat menuju koordinat sasaran yang telah ditentukan di Pulau Gundul. Semua mata terpaku, nyaris tak berkedip, menunggu hasil dari senjata canggih ini.
Beberapa detik yang terasa seperti menit berlalu hingga akhirnya, di kejauhan, ledakan besar menerangi langit. Api berkobar di titik sasaran, disertai dengan kepulan asap hitam tebal yang membumbung tinggi ke langit. Gelombang suara ledakan yang terlambat sampai ke kapal menggema dengan intensitas luar biasa, mengguncang udara dan menegaskan kekuatan rudal itu.
Di atas kapal, suasana langsung berubah. Sorakan penuh kemenangan meledak dari seluruh kru. “Tepat sasaran!” Seru salah satu teknisi di ruang kendali, diikuti oleh tepukan tangan yang menggema.
Mahesa yang berdiri di depan layar radar langsung merasa lega setelah ketegangan sempat memenuhi dadanya dan bersujud diikuti beberpa tim.
Dari kejauhan, Pulau Gundul tampak seperti medan perang kecil. Sisa-sisa ledakan terlihat jelas, dengan puing-puing tiruan sasaran yang kini hanya berupa serpihan. Dampak ledakan menciptakan riak gelombang kecil di sekitar perairan pulau, menandakan betapa dahsyatnya kekuatan rudal yang baru saja ditembakkan.
Kasal yang menyaksikan dari KRI RJW-992 berbicara melalui komunikasi.
“Bravo Zulu, KRI REM-331! Sasaran dihancurkan dengan sempurna!”
Mahesa yang masih merasakan sisa adrenalin, membalas dengan hormat. “Mission completed!”
Di kapal, para kru saling berpelukan, merayakan keberhasilan yang monumental ini. Momen yang menjadi pengingat bahwa setiap latihan adalah langkah maju dalam menjaga kedaulatan NKRI.
“Lettu!“ Seru Letda Pradipta Wijaya, yang langsung berhambur ke tubuhnya. “Kita berhasil!“
Mahesa menyunggingkan seringai tipis, lalu menepuk bahu Pradipta. “Apa perintah dalam misiku?” Tanya Mahesa.
“Selamat dan tidak mati!“ Jawab Letda Pradipta tegas.
Mahesa mengangguk, kalimat itu bukan hanya sebuah perintah tetapi juga motto hidup. Dan Pradipta tahu, Mahesa tidak pernah gagal dalam misinya. Mereka telah melalui banyak hal bersama di akademi militer. Hanya satu hal yang membedakan mereka sekarang—pangkat di bahu.
“Jalesveva Jayamahe! Di laut kita jaya!“ Seru para tim sambil mengepalkan tangan ke udara.
Mahesa melihat satu persatu rekannya, menerima jabatan tangan dan mengucapkan selamat. Di antara mereka, kepercayaan adalah hal yang harus di tanamkan kepada sesama anggota dalam menghadapi suatu misi, entah itu misi serius ataupun tidak. Kecemasan bukanlah sesuatu yang boleh berakar di hati para TNI, begitupun di semua hati pecinta ibu pertiwi.
Kecuali satu hal, Mahesa yakin bahwa di darat, ada seseorang yang meskipun cintanya kepada ibu pertiwi lebih besar dari dirinya sendiri, tetap kecemasan selalu lebih kuat mendominasi hati kecilnya.
Mahesa tahu betul bahwa setiap kali ia melangkah ke laut, setiap kali ia menjalani tugas yang penuh resiko, seseorang di darat diam-diam menanggung keresahan bahkan mengutuk laut tempatnya berlayar. Ia tidak ingin menjadi alasan yang begitu kuat justru dihantui ketakutan.
Tapi Mahesa tidak peduli seberapa jauh laut yang harus ia taklukan, seberapa deras angin yang menghempas. Karena sesuai dengan perintah dalam misinya—berhasil dan tidak mati. Dia akan pulang menjumpai ibu pertiwi, dan akan selalu pulang.
Salam dari laut nusantara!
Hidup pengawal samudra raya!

Komentar
Posting Komentar